Halaman

Tampilkan postingan dengan label Patologi Klinik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Patologi Klinik. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 Oktober 2012

ASAM URAT (DALAM DARAH)




URIC ACID IN BLOOD / ASAM URAT
By: Ade Heryana
(sumber: Jim Keogh RN, 2010 : Nursing Laboratory & Diagnostic Tests Demystified, Mc Graw Hill)


NAMA LAIN

-          Uric Acid

PENGERTIAN

Beberapa makanan mengandung zat purine. Asam urat dihasilkan ketika purine dimetabolisme dalam tubuh. Asam urat masuk ke dalam darah dan dikeluarkan oleh ginjal melalui urine dan sebagian kecil melalui anus. Tes Asam Urat mengukur jumlah asam urat dalam darah.


APA  YANG DIUKUR ?

·         Jumlah asam urat dalam darah


TUJUAN TES

Screening untuk mengetahui :
·         Batu ginjal
·         Gout/Pirai
·         Adanya efek samping dari terapi radiasi dan kemoterapi

PENANGANAN PASIEN

Dapatkan informasi apakah pasien:
·         Sedang kelaparan, habis olah raga berat dan sedang menjalani diet ketat protein. Hal ini akan meningkatkan jumlah Asam Urat dalam darah.
·         Mengkonsumsi obat-obatan : aspirin, teofilin, golongan diuretik, niasin, kafein, vitamin C, asam askorbat, epinefrin, levodopa, warfarin, diazoksid, cisplatin, siklosporin, asam nikotinat, fenotiazin, takrolimus, metildopa atau etambutol, dimana akan mempengaruhi hasil tes. Diusahakan jangan dikonsumsi selama 2 minggu.
·         Sedang hamil. Jumlah Asam urat akan meningkat selama hamil yang memudahkan dokter/klinisi dalam mendiagnosa preeklampsia (hipertensi saat hamil)
·         Telah mengkonsumsi hati, daging merah, daging hewan liar, ikan berlemak, ikan sardin, makanan laut atau minuman beralkohol. Diusahakan jangan mengkonsumsi jenis makanan tersebut 24 jam sebelum tes dijalankan.

Jumlah asam urat lebih tinggi pada pagi hari dan lebih rendah pada sore hari, sehingga catat waktu ketika pemeriksaan dijalankan.


PEMAHAMAN HASIL TES

Nilai rujukan/normal Asam urat biasanya adalah :
·         Pria : 3.4 – 7.0 mg/dL
·         Wanita : 2.4 – 6.0 mg/dL
·         Anak-anak : 2.5 – 5.5 mg/dL

Nilai asam urat tinggi dapat mengindikasikan :
·         Gangguan ginjal
·         Multiple Myeloma
·         Lymphoma
·         Hemolytic Anemia
·         Gagal jantung
·         Leukemia
·         Sickle cell Anemia
·         Preeclampsia
·         Cirrhosis
·         Kecanduan Alkohol
·         Hypoparathyroidism
·         Hypothyroidism
·         Kelaparan
·         Keracunan timbal
·         Gizi buruk
·         Psoriasis
·         Lesch-Nyhan Syndrome
·         Kegemukan/Obesitas
·         Diet ketat purine

Nilai Asam urat rendah dapat mengindikasikan :
·         Diet rendah protein
·         SIADH (Syndrome of Inapproriate Antidiuretic Hormone Hypersecretion)
·         Wilson disease
·         Kanker
·         Gangguan hati
·         Mengkonsumsi obat-obatan : allopurinol, probenesid, sulfipirazon, aspirin (dosis >= 1500 mg per hari)

Rasio Albumin/Globumin lebih besar dari 1.0 mengindikasikan fungsi yang abnormal dalam tubuh.

Catatan: Asam urat kristal dapat terbentuk di persendian sebagai pencetus penyakit Gout, meskipun nilai asam urat normal. Nilai asam urat tinggi tidak berarti bahwa pasien menderita Gout. Gout didiagnosa dengan memeriksa cairan dari persedian yang terkena asam urat kristal.


DAFTAR ISTILAH

·         Cirrhosis / pembengkakan hati : kondisi diakibatkan penyakit liver kronis yang ditandai dengan perubahan jaringan liver oleh fibrosis, jaringan kasar dan nodul regeneratif.
·         Gout : kondisi medis biasanya ditandai dengan serangan berulang dari inflamasi artritis akut (merah, nyeri, panas dan sendi membengkak)
·         Hemolytic Anemia : anemia yang menyebabkan hemolisis, penurunan jumlah sel darah merah secara abnormal di pembuluh darah (intravascular hemolysis) atau di tempat lain (extravascular)
·         Kemoterapi : metode pengobatan suatu penyakit secara kimia terutama untuk membunuh mikroorganisme dan sel kanker.
·         Lesch-Nyhan Syndrome / Nyhan's syndrome / Kelley-Seegmiller syndrome / Juvenile gout : gangguan hereditas disebabkan oleh kekurangan enzim hypoxanthine-guanine phosphoribosyltransferase (HGPRT),  yang diproduksi dengan proses mutasi  gen HPRT yang berlokasi di kromosom X.
·         Multiple myeloma / plasma cell myeloma / Kahler's disease : sejenis kanker sel plasma,sejenis sel darah putih yang bertanggung jawab terhadapa produksi antibodi.
·         Preeclampsia : kondisi medis dimana terjadi hipertensi saat kehamilan yang disebabkan jumlah protein yang tinggi dalam urine.
·         Psoriasis : penyakit autoimun kronis yang timbul pada kulit, dimana sistem imun mengirim sinyal yang salah yang menyebabkan percepatan siklus hidup sel kulit, dan tidak menular.
·         Purine : sebuah senyawa organik heterosiklik yang secara biokimia merupakan komponen yang berguna dalam biomolekul penting (ATP, GTP dsb) dan ditemukan dalam jumlah besar pada organ ginjal dan hati.
·         SIADH (Syndrome of Inapproriate Antidiuretic Hormone Hypersecretion): suatu kondisi yang sering ditemukan pada pasien yang didiagnosa menderita kanker tenggorokan, pneumonia, tumor otak, trauma kepala, strokes, meningitis dan encephalitis.
·         Sickle cell anemia / drepanocytosis :  gangguan darah genetik autosom yang tak terlihat, yang secara umum ditandai dengan sel darah merah yang dianggap berbentuk abnormal, rigid dan bulan sabit.
·         Wilson disease / hepatolenticular degeneration : gangguan autosom genetik dimana bahan kimia tembaga (copper) berakumulasi di jaringan, yang merupakan manifestasi dari gejala neurological atau psikiatrik dan penyakit liver.


LAJU ENDAP DARAH



LAJU ENDAP DARAH


NAMA LAIN

-          Sedimentation rate (SR)
-          Erythrocyte sedimentation rate (ESR)
-          Biernacki Reaction
-          Sed Rate
-          Kecepatan endap darah (KED)
-          Laju sedimentasi eritrosit

SEJARAH TES

LED ditemukan tahun 1897 oleh dokter berkebangsaan Polandia, Edmund Biernacki. Di belah dunia lain, tes ini selanjutnya dikenal dengan Biernacki Test (singkatan dalam bahasa Polandia adalah OB = Odczyn Biernackiego.)

Pada tahun 1918 ahli patologi kebangsaan Swedia, Robert Sanno Fåhræus bersama dengan Alf Vilhelm Albertsson Westergren, mengumumkan tes yang dikenal dengan nama Fåhræus-Westergren test (FW test), di Inggris biasa disebut Westergren test, yang menggunakan Natrium Sitrat (sodium citrate) sebagai anti koagulasi.

PENGERTIAN

Laju endap darah diatur oleh keseimbangan antara faktor pro-sedimentasi (terutama fibrinogen) dengan faktor-faktor yang menghalangi sedimentasi, yang disebut “lengkungan negatif eritrosit” atau zeta potential. Peningkatan jumlah fibrinogen dalam darah selama proses inflamasi/pembengkakan menyebabkan eritrosit melekat satu sama lain, membentuk semacam timbunan yang disebut rouleaux.

Laju Endap Darah (LED) mengukur berapa milimeter per jam eritrosit mengendap di dasar tabung tes (tabung Westergen). Rouleaux mengendap lebih cepat dibanding eritrosit, sehingga peningkatan LED mengindikasikan pasien mengalami inflamasi.  

Catatan: Selain LED, dokter akan menganjurkan tes tambahan untuk mendiagnosa inflamasi serta tambahan pemeriksaan CRP untuk menentukan apakah pasien benar-benar terkena infllamasi.
Tidak semua keadaan inflamasi menyebabkan peningkatan LED, sehingga jika LED normal belum tentu tidak ada inflamasi.

Formasi Rouleaux dapat pula terjadi bersamaan dengan penyakit limfoproliferatif dimana satu atau lebih imunoglobulin disekresi dalam jumlah besar. Secara fisiologis, formasi Rouleaux biasa ditemukan pada hewa-hewan seperti kuda, kucing dan babi.


BAGAIMANA TES DILAKUKAN?

·         Metode yang digunakan untuk pemeriksaan LED ada dua, yaitu metode Wintrobe dan Westergreen.
·         Selisih hasil pemeriksaan LED dengan menggunakan kedua metode tersebut sebenarnya tidak jauh jika nilai LED masih dalam batas normal. Tetapi jika nilai LED meningkat, maka hasil pemeriksaan dengan metode Wintrobe kurang menyakinkan. Dengan metode Westergreen bisa didapat nilai yang lebih tinggi, hal itu disebabkan panjang pipet Westergreen yang dua kali panjang pipet Wintrobe.
·         Kenyataan inilah yang menyebabkan para klinisi lebih menyukai metode Westergreen daripada metode Wintrobe. Selain itu, International Commitee for Standardization in Hematology (ICSH) merekomendasikan untuk menggunakan metode Westergreen

KEGUNAAN TES

·         Screening kesehatan umum (Medical Check Up), tetapi tidak efektif
·         Untuk screening inflamasi
·         Membantu pengobatan inflamasi
·         Mendiagnosa penyakit seperti multiple myeloma, temporal arteritis, polymyalgia rheumatics, bermacam-macam penyakit auto-imun, SLE, dan gagal ginjal kronis. Pada beberapa kasus, LED dapat meningkat hingga 100 mm/h
·         Biasa pula digunakan sebagai diagnosa pembanding pada penyakit Kawasaki (Kawasaki’s disease)
·         Membantu diagnosa beberapa penyakit infeksi kronis seperti TBC dan endokarditis
·         Komponen dari PDCAI, yaitu suatu indeks untuk menentukan tingkat keganasan penyakit inflamasi anus pada anak.
·         Dapat pula digunakan dalam perhitungan kasar terhadap respon penyakit Hodgkin’s Lymphoma. LED digunakan untuk menentukan satu dari beberapa kemungkinan faktor efek samping dalam yang timbul dari penyakit Hodgkin’s Lymphoma, yang disebut Wintrobe Methode.

PENANGANAN PASIEN

Beberapa kondisi pada pasien akan mempengaruhi hasil pemeriksaan, seperti:
·         Sedang hamil
·         Sedang menstruasi
·         Menderita anemia

Jangan lupa untuk mencatat usia pasien, karena LED meningkat searah dengan usia.


PEMAHAMAN HASIL TES

Nilai rujukan/normal LED  adalah :
·         Pria < 50th : 0 – 15 mm/h
·         Pria > 50th : 0 -  20 mm/h
·         Wanita < 50th : 0 – 20 mm/h
·         Wanita > 50th : 0 – 30 mm/h
·         Anak-anak : 0 – 10 mm/h
·         Bayi baru lahir : 0 – 2 mm/h

Nilai LED tinggi dapat mengindikasikan :
·         Infalamasi
·         Rheumatoid Arthritis
·         Systemic Lupus Erythomatesus
·         Appendicitis (radang usus buntu)
·         Pneumonia
·         Gagal ginjal kronis
·         Lymphoma
·         Penyakit radang panggul
·         Penyakit kelenjar tiroid
·         Giant cell arteritis (pembengkakan pembuluh darah)
·         Rematik Polimyalgia
·         Toxemia pada kehamilan (preeclampsia)

Nilai LED rendah dapat mengindikasikan :
·         Penyakit sel bulan sabit
·         Hiperglikemia
·         Polisitemia

HUBUNGAN DENGAN TES LAINNYA

·         CRP atau C-Reactive Protein adalah protein fase akut yang dihasilkan oleh liver selama proses inflamasi. Karena CRP dalam darah meningkat lebih cepat setelah proses inflamasi atau infeksi dimulai, LED sering digunakan sebagai pengganti penrhitungan CRP.